Kamis, 29 September 2011

_Kawah Ratu_

Lama sudah ku tak menyapa Boppi kesayangan ku ini (mungkin sekitar 8 bulanan), semenjak kerja di tempat yang baru dan terlampau jauh jarak harus ditempuh sehingga setiap hari harus bangun lebih awal sekali dan pulang hingga petang... hiks, sedih; tapi tetap harus bersyukur (cz byk org yg blm mndpt krj). Hal itu membuat ku enggan untuk membuka kompi, apalagi untuk mengupdate artikel-artikel atau info-info terkini; terlampau lelah, mending bantu orangtua, y g???

***

Oke, kini saatnya ku ingin berbagi tentang perjalanan pertamaku bersama rekan2 kerja. Perjalanan kami ke Kawah Ratu (Jum'at, 24 September 2011)...

Saat pertama kali mendengar perbincangan tentang outbond yang akan dilaksanakan salah satu bidang tempat ku bekerja dan mereka mengajak rekan2 sepantaranku yang lain untuk ikut serta, ku tentu saja berteriak lantang "MAU IKUT DONNNNK". Rasa rindu yang membuncah untuk beraktifitas yang full dan bercengkrama dengan alam, membuat ku semakin bersemangat untuk ikut... yippy

pagi hari di penginapan warga, bersiap sarapan
Peta pendakian
Briefing & Berdo' a sebelum pendakian
 
Bersiap Registrasi sebelum memulai pendakian

Depan pintu masuk pendakian
 

Kawasan sebelum ke kawah



 Dokumentasi dekat Kawah Ratu

Alhamdulillah niat untuk mengupload beberapa foto saat berpetualang keKawah Ratu tertunaikan sudah. Terima kasih telah berkenan menyimak & melihat-lihat. ^^
*) semoga bisa berlanjut ke petualangan2 berikutnya
Read More...

Minggu, 29 Mei 2011

Belajar Kokoh...

Setiap kematian meninggalkan pesan, pesan untuk mengingat betapa dekatnya kita dengan alam barzah. Pesan untuk mengingat dan menyebut kebaikan yang meninggal agar ada langkah yang nyata dalam mengikuti kebaikan-kebaikan yang ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kamu menghadiri orang yang sakit atau orang yang meninggal, maka katakanlah yang baik, maka sesungguhnya malaikat mengaminkan (membaca amin) atas apa yang kamu katakan.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain dari al-Bukhari, bahwasanya satu jenazah dibawa melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat radiyallahu ‘anhum, lalu mereka menyebutkan kebaikan-kebaikan orang tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wajib”. Lalu lewat lagi satu jenazah yang lain, lalu mereka menyebutkan kejahatan kejahatannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi, “Wajib”. Maka Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu bertanya, “Apakah gerangan yang wajib?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini yang kamu sebutkan atasnya kebaikan, maka wajiblah baginya surga; dan ini yang kamu sebutkan atasnya kejahatan, maka wajiblah baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari)
Air mata akan segera mengering, gundukan tanah akan segera membatu, kesedihan akan segera ditumpuki dengan agenda kesibukan lainnya, maka marilah sejenak kita mengenang kebaikan dan hanya kebaikanlah yang layak untuk dikenang dari setiap insan. Mari belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh (wafat Sabtu 21 Mei 2011).
Pertama: Teladan Fisik yang Kuat dan Komitmen dalam menjaga kesehatan
Aktifitas dakwah membutuhkan energi yang luar biasa. Ini yang disadari oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, maka beliau punya komitmen yang sangat tinggi dalam menjaga kesehatan, dan juga mengingatkan kader dakwah yang lain agar peduli kesehatan. Afifah Afra menuliskan kenangannya bersama ustadzah Yoyoh Yusroh dalam suatu kesempatan memberikan tausiah di depan para muslimah Semarang. Beliau sangat menganjurkan para muslimah untuk menjaga kesehatan. Menekankan untuk mengonsumsi banyak sayur dan buah-buahan, serta meninggalkan segala jenis makanan instan yang berpengawet. Lebih tegas ustadzah Yoyoh Yusroh menjelaskan: “Rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk menghasilkan generasi yang terbaik. Jadi, makanlah hanya sesuatu yang halal dan toyib”.  Komitmen beliau yang tinggi ini pun bisa dengan mudah dibuktikan di depan mata. Melahirkan 13 putra dan putri tentu dibutuhkan penjagaan fisik yang luar biasa, belum ditambahi aktifitas dakwah dan kegiatan yang sangat padat. Beliau mampu melewati hari-hari sibuknya dengan stamina yang kuat. Saat ditanya seorang akhwat tentang resep fitnya, beliau mengingatkan untuk jangan lupa mengonsumsi habbatus sauda dan madu.
Kedua: Kesabaran Luar Biasa
Melahirkan, merawat dan membesarkan 13 orang anak adalah hal luar biasa yang mutlak membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Betapa banyak kader dakwah yang hari ini mengumbar keluhkesah dan berteriak kerepotan, sementara mereka baru dikarunia satu dua anak, dengan amanah dakwah yang tak seberapa. Kegiatan beliau yang begitu padat tentulah membutuhkan kesabaran luar biasa. Dalam kehidupan rumah tangga beliau adalah contoh kesabaran seorang ummahat, karena beliau seringkali diminta –terkadang bersama suaminya- untuk mengisi talkshow dan seminar  dengan teman keluarga islami. Beliau berpesan  tentang kunci sukses membina rumah tangga: “Dalam membina rumah tangga, yang penting prinsipnya saling memberi. Tidak ada yang superordinat atau subordinat antara laki-laki dan wanita. Sejak awal menikah komitmen itu harus ada.  Laki dan wanita punya keistimewaan.”. Banyak lagi pesan dan petuah beliau tentang rumah tangga, yang sungguh telah dibuktikan sejak awal dalam kesabaran beliau mengarungi rumah tangga. Sekali lagi, dengan 13 orang anak!
Ketiga: Aktif Bergerak 
Ustadzah Yoyoh Yusroh juga menjadi teladan akhwat muslimah dalam kiprah bagi dakwah dan masyarakat. Amanah beliau yang begitu banyak senantiasa beliau tuntaskan dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya dalam konteks internal partai atau dalam negeri, namun juga tampil aktif dalam organisasi internasional bahkan perjuangan internasional membela Palestina. Beliau memimpin rombongan Viva Palestina yang dikoordinir oleh Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP), dan melalui perjuangan berat akhirnya mampu menembus Gaza dengan dikawal barisan panser tentara Mesir. Kiprah beliau yang sangat padat bisa dilihat dari rentetan tugas  dan penghargaan yang beliau dapat. Selain di DPR beliau juga aktif sebagai anggota Dewan Pakar ICMI (Tahun 2005-2010), bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia.  Tak hanya itu, sejumlah tanda jasa pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003, dan Mubaligh National dari Departemen Agama RI tahun 2001. Sebuah gambaran sekaligus teladan, seorang ummahat yang sukses meramu antara ranah domestik dengan pengabdian kemasyarakatan.
Keempat: Ruhiyah Tinggi
Aktivitas dakwah dan kemasyarakatan yang begitu padat akan sangat melelahkan tanpa siraman ruhiyah yang teratur dan pada porsi yang istimewa. Ustadzah Yoyoh Yusroh tahu dan meyakini dengan pasti hal tersebut. Karenanya beliau senantiasa menghiasi hari-hari padat aktifitasnya dengan charger ruhiyah yang terus dijaga dan ditingkatkan. Tilawah dan mengulang hafalan Quran adalah rutinitas harian yang tak terlewatkan. Salim A Fillah pernah mendapati beliau bersama suami tengah asyik mengulang hafalan berdua, bergantian menyimak dan membenarkan. Secara khusus, beliau senantiasa menyelesaikan tilawah tiga juz setiap harinya. Tentu sebuah capaian yang luar biasa, yang barangkali tak terbayangkan dalam benak banyak kader yang selalu gagal menyelesaikan satu juz tilawah karena alasan kesibukan. Ketika ditanya bagaimana mungkin menyempatkan diri untuk tilawah sebanyak itu dalam setiap harinya, ustadzah Yoyoh Yusroh menjawab dengan yakin dan mantap: “Justru karena sibuk dan banyak hadapi aneka persoalan serta begitu beragam manusia, maka harus memperbanyak Al-Qur’an”. Subhanallah
Kelima: Penyayang dan Peduli
Banyak akhwat yang terkesan dengan kesederhanaan dan ketawadhukan beliau, dan lebih dari itu kedekatan personal dan ukhuwah yang dibuktikan dengan langkah nyata. Panggilan bunda dan ummi menandakan tempat khusus di hati para akhwat. Seorang akhwat muda begitu terkesan saat dalam sebuah pertemuan kedua dengan beliau, ustadzah Yoyoh Yusroh masih mengingat betul nama dan asalnya, serta menanyakan tentang kegiatan dan aktifitas terbarunya.  Hal ini jelas menunjukkan kepedulian dan kasih sayang beliau yang tulus kepada para akhwat, tanpa pamrih, seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Akhirnya, tentulah masih banyak teladan kebaikan yang telah ditorehkan oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, coretan singkat ini tak akan pernah mampu mewakili kebaikan dan keteladanan dari sosok daiyah dan mujahidah ini. Sekali lagi marilah belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh. Mari belajar memuhasabahi diri atas langkah yang amal yang telah kita torehkan setiap hari.
Beberapa hari sebelum meninggal, beliau menuliskan SMS berisikan kegelisahan dan muhasabah hatinya kepada seorang akhwat: “ Ya rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak diakhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita Khadijah Al-Kubra yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafshah binti Umar yang dibela oleh Allah saat akan dicerai karena shawwamah (rajin puasa-red) dan qawwamahnyaI (rajin tahajud-red)? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500 an hadits, sedang aku…. ehm 500 juga belum… atau dengan Ummu Sulaim yang shabiroh (penyabar) atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad… atau dengan siapa ya. Ya Allah, tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliah mereka… sehingga aku layak bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di taman firdaus-Mu.
Read More...

Sabtu, 16 April 2011

Menunggu

Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
Saat ku harus bersabar dan trus bersabar
Menantikan kehadiran dirimu (red: kalian)
Entah sampai kapan aku harus menunggu...

(Aishiteru- Zivilia Band)


Lagu itu mungkin hampir mendekati suasana hatiku saat menunggu seseorang, sekawanan, atau sesuatu. Ku rasa semua orang pasti mengalami bagaimana rasanya 'menunggu' itu. "menjengkelkan, membosankan" itulah kata-kata awal yang tergambar dalam benakku jika harus menunggu.


Dear Boppi (blog punya Bekti ),
Kau tahu... semua orang tidak menyukai beberapa hal 'menunggu' dan terkadang menyukai beberapa hal 'menunggu'. Ku terbiasa ontime sejak kecil-jaman2nya ortu dulu masih ngontrak- hingga beranjak dewasa pun kedua orangtuaku masih seperti itu. Semua hal harus dikerjakan tepat waktu, cepat dan jangan sampai membuat orang lain menunggu.

Pengalaman disaat-saat menunggu...
Ketika TK (Taman Kanak-Kanak), saat ku sudah rapi berpakaian maka dengan sendirinya aku pasti akan menunggu mama selesai beres-beres untuk mengantarkanku sekolah. Disela-sela menunggu aku akan merapikan kaos kakiku, kau tahu apa yang akan kulakukan? Menyamakan tinggi kaos kakiku antara kaki kanan dan kiri, ku mengukurnya dengan jari tangan. Jika tidak sama ku mulai menangis perlahan; refleksi kekesalan, kau tahu kan bagaimana rasanya itu di hatimu? Sulit kuungkapkan dalam bentuk kata-kata, yang pasti itu sesuatu yang tidak mengenakkan; trust me. Jika tinggi kaos kaki itu tetap tidak sama, ku kan menangis hingga orang dewasa tahu ku sedang bersedih (sedih krn kaos kaki ga' nurut juga).

Ketika SD, ku terbiasa menunggu teman-temanku memanggilku untuk berangkat bersama (red: nyamper) sambil sarapan pagi. Saat teman-teman sudah memanggil, mereka menungguku sejenak untuk menyelesaikan makan dan minum. Of course, mama pastinya menyuruhku untuk cepat-cepat melahap makananku.

Ketika SMP... masih sama seperti sebelum2nya, menunggu teman menjemputku berangkat sekolah bersama (cuma 1 orang sih yg jemput, Andri- Teksi Andriani). Namun lambat laun mulai terasa tidak efektif, Andri yang rumahnya di depan malah menjemputku yang rumahnya di belakang . Akhirnya kami berangkat sendiri2 (udah mulai berani berangkat sendiri; beda cerita lagi tentang naik angkot pertama kali- next time).

Dalam lingkungan rumahku ada 2 temanku yang masuk SMP yang sama (salah satunya Andri, yang satunya juga cewek), entah kenapa pada saat itu aku ingin berangkat (red: nyamper) dengan temanku yang satu lagi. Jadilah diriku menjemput dirinya (hoho), "Mawar...!!!" (sebutlah demikian namanya) panggilku dengan suara yang nyaris tak terdengar oleh penghuni rumah (padahal merasa udah kencang suaranya, ga' baik juga kan kalau pakai teriak). Kupanggil lagi namanya berulang kali, alhamdulillah ada yang menyahut "Iya...." kata orang dalam. Keluarlah temanku dan berangkatlah kami. Kulupa persisnya berapa kali kami berangkat bersama, dan mungkin ini yang ketiga kalinya ku nyamper dirinya. Seperti biasa setelah ada sahutan dari orang di dalam rumah, ku menunggu sejenak. Entah kenapa kurasa semakin lama menjadi semakin larut ku menunggunya; bete, pegal (berdiri) dan panas plus gondok yang kurasakan saat itu. Dan itu menjadi hari terakhir ku nyamper dirinya...

Ketika SMA alhamdulillah masih ada teman yang sama sekolahnya dengan diriku; seperti SD dan SMP, ku menunggu temanku. Awal-awal berangkat bareng track recordnya masih bagus, pagi. Jam 06.15 sudah tiba dirumahku, tetapi semakin lama kelamaan kok agak ngaret. Huh, jadilah kuberangkat sendiri dengan memendam rasa sebel bin kesel, "Nyebelin banget ya ini orang, jam segini belum datang. Ngapain sih, awas aj besok" cercaanku dalam hati. Tahu, ngerti, paham ada banyak kemungkinan kenapa sampai dia terlambat atau ngaret. Tapi boleh kan memuaskan diri sejenak untuk marah? Sejenak...
Ga suka banget kalau masuk sekolah itu yang namanya terlambat, kesiangan, apalagi sampai udah dikunci gerbangnya (alias disuruh pulang). OK, diaturlah lagi jadwal berangkat barengnya. Kami janjian di depan jembatan Simpangan Depok jam sekian, awal2 tetap menyenangkan karena tak terlalu lama menunggunya. Tapi makin ke sini kok telat lagi y? Huh, kutinggallah dirinya... Padahal dia juga telat ternyata, kupikir ninggalin diriku

Ketika kuliah, saat-saat ini yang kurasa tak terlalu menelan pahitnya lama menunggu. Alhamdulillah, mereka rekan2 yang dapat menghargai waktu. Dan saat itu sudah punya HP, jadi kalau mereka belum sampai disaat yang sudah dijanjikan, mereka pasti memberitahu posisi mereka dan perkiraan akan sampai ditempat yang telah dijanjikan berapa lama. Cukup menikmatilah...
Masalah muncul ketika saat janjian: SMS ga dibales, ngaret, ga' bawa buku bacaan, ga' bawa Qur'an n earphone. Lengkap sudah amarah memuncak. Sudah kukatakan diatas bukan? Paham, ngerti and banyak kemungkinan kenapa mereka terlambat: macet, ga' ada pulsa, HP di silent, msh ada kerjaan rumah bantu ortu, etc. Tapi sekali lagi, boleh kan sejenak ku untuk marah? "Kenapa ga prepare sebelumnya c? Udah tahu janjian jam sekian, ngapain aja coba" keluhku. Dan amarahku mulai mereda saat mereka mulai menjelaskan kenapa mereka terlambat, tak bisa balas SMS, dan meminta afwan (maaf maksudnya ^^). Hilang lenyap sudah puncak amarah itu menjadi hiasan tawa renyah bersama mereka.

Selepas kuliah, kembali berkutat dengan mereka2 yang ontime dan ngaret. Ada 1 cerita sahabatku, yang membuatku terhenyak amat sangat tinggi. Intinya, dia sudah terbiasa menunggu 1-1,5 jam menunggu temannya saat janjian.  kok bisa? Jamuran n lumutan deh aku kalau begitu caranya. Subhanallah buat sahabatku itu, tinggi sekali toleransinya dan betapa sabar dirinya menanti ^^. Masih perlu banyak belajar untuk seperti itu "Ga kasihan apa ya temannya itu hingga dia harus menunggu dirinya selama itu?". Rasa bersalah amat sangat terasa kalau terlambat, tak memberi kabar, etc. Tak mau diperlakukan seperti itu? Maka jangan seperti itu! Itulah kuncinya.

Kau tahu Boppi, 3 rekan sudah menjadi lampiasan amarahku karena tak memberi kabar kepadaku (ku delete contact-nya dari HP-ku), yang menurutku penting untuk dijawab. Kau tahu bagaimana rasanya disaat terpenting dan mendesak bagimu untuk mengetahui sesuatu, dan menurutmu dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi selain kepada dirinya? Sulit diungkapkan dalam tulisan, hingga akhirnya kuhapus nomornya.

Sekelumit permasalahan yang semakin menggambarkan bahwa diriku dulu masih childish (or something like that; sekarang masih seperti itu ga y? hehe), betapa banyak kesalahan yang telah kuperbuat kepada rekan2ku tanpa mereka ketahui.
Maafkan y teman2...

(curahan pikiran sambil menunggu hujan reda dan sendiri diruangan kantor ini; belajar menulis dari pengalaman pribadi, teman berkata "True Story" lebih bagus untuk dijadikan cerita, begitukah?)
Read More...